Sabtu, 24 September 2022

" The Last Standing " Garbera

 


“ THE  LAST  STANDING”   GARBERA

M

 

enemukannya mekar  di suatu pagi setelah menunggu sekian lama membuatku surprise.

 

Menjadi “The Last Standing” Garbera di pekarangan rumah menjadikannya inspirasi bagiku untuk menggores kursor setelah ngadat sekian lama,  meski sekedar  goresan iseng semata, lumayan sebagai pengisi blog sederhana yang sekian bulan tidak pernah kukunjungi lagi.

 

Entah bagaimana ...... beberapa pot garbera lainnya “punah” , imbas dari kelalaian  akibat aktivitas PPG Daljab yang luar biasa menyita waktu, tenaga, dan pikiran beberapa waktu yang lalu. 

Tak bermaksud mengkambinghitamkan PPG Daljab, yang  harus menemukan endingnya di tahun ini....its so sad...or maybe its a good new for another...I dont know.

 

Setengah takjub kudapati diriku bersyukur, masih diberi kesempatan mengikuti program yang meninggalkan kesan mendalam.  Tidak dipungkiri,  banyak pelajaran berharga yang kudapati.  Mengenangnya seperti mengenang sebuah journey yang panjang....its really a long journey...mulai dari pendaftaran online, tes berkas, tes masuk yang hanya meloloskan  segelintir dari sekian banyak,  program kuliah daring dengan bejibun tugas setiap harinya, serentetan tugas yang membuatku lebih melek IT, dari hal-hal kecil seperti menscan dokumen, mengkonversi dan memerge dokumen, membuat PPT untuk presentasi, menampilkan PPT dalam zoom meeting, menggunakan google sheet, quiziz, membuat flipbook, menggunakan canva (belum semuanya kukuasai dengan baik sebenarnya), dan yang paling berat tentunya urusan edit mengedit video pembelajaran coz aku tidak punya pengalaman mengedit video menggunakan laptop, yang ada malah laptopku sempat ngecrash pada salah satu sesi pengeditan video pembelajaran....wadidow...dan tentu saja serentetan ujian dari level Easy sampai yang membuat jantung berdebar, tidak selalu mulus, kadang berakhir dramatis dan butuh pengulangan meski akhirnya segala ikhtiar itu terbayarkan dengan keluarnya selembar kertas sakti  yang dilabeli sebagai Serdik.

 

Selembar kertas yang praktis  bukan sembarang kertas, menjadi legitimasi bagi seorang pengajar untuk dikatakan sebagai pengajar profesional (katanya...), dapat dianalogikan sebagai Cek, kunci  peningkatan kesejahteraan hidup, tentu saja bagi yang memenuhi syarat. Memenuhi syarat ?  Yup, beberapa diantaranya adalah syarat terpenuhinya jumlah jam mengajar dan linearitas serdik dengan mapel yang diajarkan. 

 

Alhasil...diriku yang dari awal memang sudah “ kesasar”, terhalang oleh kendala linearitas ini.  Sejumlah ikhtiar meski diupayakan, salah satunya lewat jalur  mutasi.  Entah berapa banyak pengajar yang “kesasar” dan bernasib seperti diriku, memiliki Serdik namun belum berhak mendapat tunjangan sertifikasi.  Ironis memang...hiks !

 

Ditengah ikhtiar yang entah kapan akan berujung, tetiba Mas Menteri membawa berita mengejutkan....Serdik diputihkan untuk semua pengajar yang telah mengajar, itu berarti Program PPG Daljab berakhir di tahun ini....

Entah harus tertawa atau menangis...?

 

Meski merupakan“ The Last One”  KloterPPG Daljab yang “luar biasa” itu, tapi diriku berasa menjadi “The Last Standing of PPG Daljab” karena kesan mendalam yang ditinggalkan, sungguh... berasa baru kemarin melewati UP yang dramatis.

 

Tetiba aku menemukan kesamaan antara Garbera cantik bermahkota kombinasi itu dengan diriku, sesama berada pada fase “The Last Standing”...ada nuansa “heroik” disini.

Pernah mantengin film drama perang yang mempertemukan Tom Cruise dengan Ken Watanabe....The Last Samurai... ?  Kalo pernah...tentu paham bagaimana rasanya.

 

Masih menjadi tanda tanya bagiku, mungkinkah Pemerintah bisa menjamin peningkatan kesejahteraan sekitar 1,6 juta guru yang belum berkesempatan memperoleh tunjangan sertifikasi hingga saat ini ?

Bagaimana dengan nasib diriku dan segelintir lain di sana yang berada di zona abu-abu (Berserdik namun belum berhak memperoleh tunjangan sertifikasi) ? Apakah bila RUU itu kemudian disyahkan, klaim kami yang berzona abu abu ini untuk memperoleh tunjangan sertifikasi akan ditolak ? Wadidow....andai iya...betapa broken heartnya kami....hiks ..!

 

 

Mungkinkah RUU sisdiknas yang baru dapat menjadi jawaban bagiku dan segelintir lain yang berada di zona abu abu serta jutaan guru yang memang pure belum berserdik ?  Bukannya skeptis....tetapi menilik kondisi yang ada....ah...sudahlah.  Semoga saja.

 

Back to Garbera ....(Bye-Bye PPG Daljab...Hiks...)

 

Garbera.....ditemukan oleh Bapak Taksonomi, anak Biologi tentu ngeh donk ?!

Yup...Carolous  Linneaus....., ilmuwan yang dengan ketelatenan dan kecerdasannya mencipta sistem pengklasifikasian makhluk hidup yang hingga kini masih menjadi referensi di dunia science Biologi.

 

Uniknya, bunga cantik yang ditemukannya ini diberi nama Garbera, konon diadopsi dari nama kawan beliau, seorang dokter dari Jerman bernama Traugott Gerber.  Hingga kini aku belum menemukan  informasi seputar bagaimana kisah persahabatan antara Carolous dan Traugott, hingga si Bapak Taksonomi ini alih-alih menyematkan namanya, beliau memilih mengabadikan nama kawannya sebagai nama spesies bunga cantik nan mempesona ini. So sweet ya.....bukan hanya cerdas, Carolous Linneaus terbukti merupakan sosok ilmuwan yang tidak narcis dan romatis tentunya ...hehe....

 

Nah....menilik dari nama dan sejarah penemuannya, bisa ditebak kalo spesies yang tergolong dalam keluarga Asteraceae ini bukan native alias spesies tumbuhan lokal, melainkan tanaman impor.  Beberapa spekulasi menyatakan bahwa jenis herba ini berasal dari Afrika Selatan, Afrika Utara, dan Rusia.  

 

Masyarakat Indonesia lebih familiar menyebut Garbera sebagai Gebras atau Hebras....

Sebagai flora yang menawan, Garbera menikmati popularitas sebagai tanaman hias sekaligus penghasil minyak atsiri yang mendunia, meski popularitasnya masih di bawah puspa – puspa legend seperti Mawar, Tulip, Krisan, ataupun Anyelir.

Eloknya, kecantikan puspa ini diimbangi dengan kemampuan hidup yang relatif adaptif di wilayah dataran tinggi maupun rendah.

 

Hal yang menarik tentang Garbera selain chasingnya yang cantik dengan variasi warna mahkota dan kandungan minyak atsiri yang dimilikinya adalah fakta bahwa flora ini dapat mereduksi kandungan  zat kimia berbahaya yang terdapat di sekitar habitat flora ini ditanam, dan konon memproduksi oksigen dalam jumlah yang lebih banyak di malam hari.  Hal ini dipercaya dapat memberi rasa nyaman pada saat tidur di malam hari.

Nah...bagi pengidap insomnia, boleh dicoba trik menempatkan beberapa pot Garbera di dekat  peraduan, bersiap menikmati sensasi ajaibnya...!

 

Sebagaimana halnya dengan puspa-puspa legend lain, Garbera mempunyai filosofi yang terkait dengan rasa nyaman akibat kemampuannya mereduksi zat kimia berbahaya dan stok oksigen yang lebih banyak di malam hari, serta menjadi lambang cinta sejati....wow...

 

Warna mahkotanya yang beragam menyimpan makna yang berbeda, putih misalnya sebagai lambang kemurnian, kesucian, pink melambangkan kekaguman atau penghargaan, kuning untuk keceriaan, dan orange untuk suasana hati yang sangat ceria. 

 

The last.....Garbera merupakan flora cantik yang aura positifnya memberi rasa nyaman dan keceriaan.  So...bila memiliki kecenderungan depresi, kenapa tidak mencoba bertanam Garbera ? Aura dan energi positifnya akan mendatangkan kenyamanan dan menceriakan harimu.  Prove it !

RM 2

 Dont worry be happy....Selalu ada pelangi usai hujan....keep spirit ...

 

 

 

 

 

 

 


  Sendang Kapit Pancuran (Part II) “ Sendang Kapit Pancuran” itu seharusnya bahagia,” gumamku. “Aku justru meras...