“ THE LAST
STANDING” GARBERA
|
M |
enemukannya
mekar di suatu pagi setelah menunggu
sekian lama membuatku surprise.
Menjadi
“The Last Standing” Garbera di pekarangan rumah menjadikannya inspirasi bagiku
untuk menggores kursor setelah ngadat sekian lama, meski sekedar
goresan iseng semata, lumayan sebagai pengisi blog sederhana yang sekian
bulan tidak pernah kukunjungi lagi.
Entah
bagaimana ...... beberapa pot garbera lainnya “punah” , imbas dari kelalaian akibat aktivitas PPG Daljab yang luar biasa
menyita waktu, tenaga, dan pikiran beberapa waktu yang lalu.
Tak
bermaksud mengkambinghitamkan PPG Daljab, yang harus menemukan endingnya di tahun ini....its
so sad...or maybe its a good new for another...I dont know.
Setengah
takjub kudapati diriku bersyukur, masih diberi kesempatan mengikuti program
yang meninggalkan kesan mendalam. Tidak
dipungkiri, banyak pelajaran berharga
yang kudapati. Mengenangnya seperti
mengenang sebuah journey yang panjang....its really a long journey...mulai dari
pendaftaran online, tes berkas, tes masuk yang hanya meloloskan segelintir dari sekian banyak, program kuliah daring dengan bejibun tugas
setiap harinya, serentetan tugas yang membuatku lebih melek IT, dari hal-hal
kecil seperti menscan dokumen, mengkonversi dan memerge dokumen, membuat PPT
untuk presentasi, menampilkan PPT dalam zoom meeting, menggunakan google sheet,
quiziz, membuat flipbook, menggunakan canva (belum semuanya kukuasai dengan
baik sebenarnya), dan yang paling berat tentunya urusan edit mengedit video pembelajaran
coz aku tidak punya pengalaman mengedit video menggunakan laptop, yang ada
malah laptopku sempat ngecrash pada salah satu sesi pengeditan video
pembelajaran....wadidow...dan tentu saja serentetan ujian dari level Easy
sampai yang membuat jantung berdebar, tidak selalu mulus, kadang berakhir
dramatis dan butuh pengulangan meski akhirnya segala ikhtiar itu terbayarkan
dengan keluarnya selembar kertas sakti yang
dilabeli sebagai Serdik.
Selembar
kertas yang praktis bukan sembarang
kertas, menjadi legitimasi bagi seorang pengajar untuk dikatakan sebagai
pengajar profesional (katanya...), dapat dianalogikan sebagai Cek, kunci peningkatan kesejahteraan hidup, tentu saja
bagi yang memenuhi syarat. Memenuhi syarat ?
Yup, beberapa diantaranya adalah syarat terpenuhinya jumlah jam mengajar
dan linearitas serdik dengan mapel yang diajarkan.
Alhasil...diriku
yang dari awal memang sudah “ kesasar”, terhalang oleh kendala linearitas
ini. Sejumlah ikhtiar meski diupayakan,
salah satunya lewat jalur mutasi. Entah berapa banyak pengajar yang “kesasar”
dan bernasib seperti diriku, memiliki Serdik namun belum berhak mendapat
tunjangan sertifikasi. Ironis
memang...hiks !
Ditengah
ikhtiar yang entah kapan akan berujung, tetiba Mas Menteri membawa berita
mengejutkan....Serdik diputihkan untuk semua pengajar yang telah mengajar, itu
berarti Program PPG Daljab berakhir di tahun ini....
Entah
harus tertawa atau menangis...?
Meski
merupakan“ The Last One” KloterPPG
Daljab yang “luar biasa” itu, tapi diriku berasa menjadi “The Last Standing of
PPG Daljab” karena kesan mendalam yang ditinggalkan, sungguh... berasa baru
kemarin melewati UP yang dramatis.
Tetiba
aku menemukan kesamaan antara Garbera cantik bermahkota kombinasi itu dengan
diriku, sesama berada pada fase “The Last Standing”...ada nuansa “heroik”
disini.
Pernah
mantengin film drama perang yang mempertemukan Tom Cruise dengan Ken
Watanabe....The Last Samurai... ? Kalo
pernah...tentu paham bagaimana rasanya.
Masih
menjadi tanda tanya bagiku, mungkinkah Pemerintah bisa menjamin peningkatan
kesejahteraan sekitar 1,6 juta guru yang belum berkesempatan memperoleh tunjangan
sertifikasi hingga saat ini ?
Bagaimana
dengan nasib diriku dan segelintir lain di sana yang berada di zona abu-abu (Berserdik
namun belum berhak memperoleh tunjangan sertifikasi) ? Apakah bila RUU itu
kemudian disyahkan, klaim kami yang berzona abu abu ini untuk memperoleh
tunjangan sertifikasi akan ditolak ? Wadidow....andai iya...betapa broken
heartnya kami....hiks ..!
Mungkinkah
RUU sisdiknas yang baru dapat menjadi jawaban bagiku dan segelintir lain yang
berada di zona abu abu serta jutaan guru yang memang pure belum berserdik ? Bukannya skeptis....tetapi menilik kondisi
yang ada....ah...sudahlah. Semoga saja.
Back
to Garbera ....(Bye-Bye PPG Daljab...Hiks...)
Garbera.....ditemukan
oleh Bapak Taksonomi, anak Biologi tentu ngeh donk ?!
Yup...Carolous Linneaus....., ilmuwan yang dengan
ketelatenan dan kecerdasannya mencipta sistem pengklasifikasian makhluk hidup
yang hingga kini masih menjadi referensi di dunia science Biologi.
Uniknya,
bunga cantik yang ditemukannya ini diberi nama Garbera, konon diadopsi dari
nama kawan beliau, seorang dokter dari Jerman bernama Traugott Gerber. Hingga kini aku belum menemukan informasi seputar bagaimana kisah persahabatan
antara Carolous dan Traugott, hingga si Bapak Taksonomi ini alih-alih menyematkan
namanya, beliau memilih mengabadikan nama kawannya sebagai nama spesies bunga
cantik nan mempesona ini. So sweet ya.....bukan hanya cerdas, Carolous Linneaus
terbukti merupakan sosok ilmuwan yang tidak narcis dan romatis tentunya ...hehe....
Nah....menilik
dari nama dan sejarah penemuannya, bisa ditebak kalo spesies yang tergolong
dalam keluarga Asteraceae ini bukan native alias spesies tumbuhan lokal,
melainkan tanaman impor. Beberapa
spekulasi menyatakan bahwa jenis herba ini berasal dari Afrika Selatan, Afrika
Utara, dan Rusia.
Masyarakat
Indonesia lebih familiar menyebut Garbera sebagai Gebras atau Hebras....
Sebagai
flora yang menawan, Garbera menikmati popularitas sebagai tanaman hias
sekaligus penghasil minyak atsiri yang mendunia, meski popularitasnya masih di
bawah puspa – puspa legend seperti Mawar, Tulip, Krisan, ataupun Anyelir.
Eloknya,
kecantikan puspa ini diimbangi dengan kemampuan hidup yang relatif adaptif di
wilayah dataran tinggi maupun rendah.
Hal
yang menarik tentang Garbera selain chasingnya yang cantik dengan variasi warna
mahkota dan kandungan minyak atsiri yang dimilikinya adalah fakta bahwa flora
ini dapat mereduksi kandungan zat kimia
berbahaya yang terdapat di sekitar habitat flora ini ditanam, dan konon
memproduksi oksigen dalam jumlah yang lebih banyak di malam hari. Hal ini dipercaya dapat memberi rasa nyaman
pada saat tidur di malam hari.
Nah...bagi
pengidap insomnia, boleh dicoba trik menempatkan beberapa pot Garbera di
dekat peraduan, bersiap menikmati
sensasi ajaibnya...!
Sebagaimana
halnya dengan puspa-puspa legend lain, Garbera mempunyai filosofi yang terkait
dengan rasa nyaman akibat kemampuannya mereduksi zat kimia berbahaya dan stok
oksigen yang lebih banyak di malam hari, serta menjadi lambang cinta
sejati....wow...
Warna
mahkotanya yang beragam menyimpan makna yang berbeda, putih misalnya sebagai
lambang kemurnian, kesucian, pink melambangkan kekaguman atau penghargaan,
kuning untuk keceriaan, dan orange untuk suasana hati yang sangat ceria.
The
last.....Garbera merupakan flora cantik yang aura positifnya memberi rasa
nyaman dan keceriaan. So...bila memiliki
kecenderungan depresi, kenapa tidak mencoba bertanam Garbera ? Aura dan energi
positifnya akan mendatangkan kenyamanan dan menceriakan harimu. Prove it !
RM 2
Dont worry be happy....Selalu ada pelangi usai hujan....keep spirit ...
