Sabtu, 05 November 2022

 


Sendang Kapit Pancuran (Reuni Terakhir)

PART  1

 

“Kamu yakin tidak mau ikut bergabung ?” ada perasaan bersalah menyelinap.  Lita berbalik menatapku.

”Ayah yakin mau mengajak aku bergabung ?” Serangan baliknya membuatku tergagap, menggaruk kepala yang tidak gatal.


“Ah, sudahlah, tidak usah berbasa basi,” pungkas Lita.

Aku mencoba menemukan nada yang kumaknai sebagai kecemburuan atau kekecewaan. Kurasa aku tidak berhasil. Puff...lega rasanya, itu berarti dia benar-benar legowo...atau itu hanya pembelaan diriku saja, upaya melegalkan kelakuanku sebagai seorang laki-laki yang berstatus suami, bereuni dengan seseorang dari masa lalu, seseorang yang belakangan hadir dalam igauanku, suatu hal yang membuat istriku membuat keputusan hebat, mengijinkan aku bertemu dengan wanita itu, hanya agar aku bisa membebaskan pikiranku darinya, dari kenangan masa laluku !

“Mau dibawakan apa ?” Masih sempat kuberseru, sesaat setelah Lita menutup pintu mobil sambil menggandeng Jenar, sementara Arga, sulungku, berlari menuju pagar.

“Ceritakan saja dengan jujur bagaimana reuni kalian berlangsung,” ujar Lita datar

Hmm...benar, Lita bersikap dewasa, seharusnya aku tidak terlalu mengkhawatirkannya.

Resto itu tidak seberapa besar, tapi terasa nyaman berada di dalamnya. Sebuah sekolah menengah tua berdiri di seberang jalan, tidak jauh dari resto. Berpuluh tahun silam, aku dan wanita itu menjadi bagian dari gedung tua yang berkharisma oleh prestasi dan nama besar yang disandangnya sebagai sekolah terbesar dan favorit hingga saat ini. Menjadi kebanggaan tersendiri bagiku menjadi alumni sekolah tua itu.

Vokal Oscar Haris memenuhi resto, tidak keras, nyaman di telinga. Mataku mencari sosoknya. Tidak sukar menemukannya, Sekar Arumi, wanita itu, dia yang selalu hadir dalam mimpi malamku.

Antara hasrat dan rasa segan, membuat setiap langkahku terasa berat. Aku tidak bisa mundur lagi ! Setelah puluhan tahun berlalu, dan aku masih belum bisa melenyapkannya dari ingatanku. Hari ini adalah momen itu...tekadku bulat sudah !

Senyum manisnya tak berubah. Mata teduh itu pun tetap sama. Ketenangannya, ekspresI wajahnya yang datar, selalu membuatku gugup, kelu, tidak mampu berkata kata.


“Assalamualaikum...” halus suaranya mencairkan kebekuan.

“Waalaikumussalam.” Aku merutuki diriku sendiri, yang selalu tergagap berada di dekatnya, bahkan setelah puluhan tahun.

Canggung kutarik kursi dan duduk perlahan, menyodorkan daftar menu ke arahnya.

“Apakah kita akan tetap berdiam diri seperti ini,” guraunya setelah beberapa teguk Cappuchino

membasahi kerongkongan.


“Apa kabar Sekar Arumi ?”

Oh..how stupid me ! Kemana perginya semua kalimat yang tersusun rapi ? Aku bahkan telah berlatih beberapa hari terakhir. Haruskah aku selalu tampak tolol seperti ini ?

“Seperti inilah..” lirih suaranya diantara vokal Lobo yang mendayu dayu...I’D Love You To Want Me...  Lagu jadul itu tiba-tiba membuatku larut, mengingatkan pada situasiku saat ini.

Kumengerling pada sosoknya yang sederhana, manis, anggun, seperti puluhan tahun lalu saat pertama kali menatapnya di tangga sekolah tua, tepat di seberang jalan itu. Kala itu mayangnya yang legam dan panjang belum tertutup hijab. Gadis manis dan lembut yang pesonanya membuatku kelu.


“Aku...”Sendang Kapit Pancuran”...pilihan apa yang aku miliki ?” Getir senyumnya. 

“Masih saja kau bawa-bawa istilah itu  ”

Kugelengkan kepala. Teringat kegaduhan kelas Sosiologi sesaat setelah Sekar Arumi membacakan esainya tentang “Sendang Kapit Pancuran”,   puluhan tahun lalu....

                                                            TOBE  CONTINUE....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

  Sendang Kapit Pancuran (Part II) “ Sendang Kapit Pancuran” itu seharusnya bahagia,” gumamku. “Aku justru meras...